BUDAYA ORGANISASI
Manusia
adalah makhluk yang berbudaya, setiap aktifitasnya mencerminkan sistem
kebudayaan yang berintegrasi dengan dirinya, baik cara berpikir, memandang
sebuah permasalahan. Pengambilan keputusan dan lain sebagainya.
Budaya Organisasi Menurut Para Ahli
Kata
budaya (Culture) sebagai suatu konsep berakar dari kajian atau disiplin ilmu
Antropologi ; yang oleh Killman . et. Al (dalam Nimran, 2004) diartikan sebagai
Falsafah, ideologi, nila-nilai, anggapan, keyakinan, harapan, sikap dan norma
yang dimiliki bersama dan mengikat suatu masyarakat.
Kini
konsep tersebut telah pula mendapat tempat dalam perkembangan ilmu perilaku
organisasi, dan menjadi bahasan yang penting dalam literatur ilmiah dikedua
bidang itu dengan memakai istilah budaya organisasi
Menurut
Robbins (1999) semua organsasi mempuyai budaya yang tidak tertulis yang
mendefinisikan standar-standar perilaku yang dapat diterima dengan baik maupun
tidak untuk para karyawan. Dan proses akan berjalan beberapa bulan, kemudian
setelah itu kebanyakan karyawan akan memahami budaya organiasi mereka seperti, bagaimana berpakaian
untuk kerja dan lain sebagainya
Gibson (1997) mendefinisikan budaya organisasi sebagai sistem yang menembus nilai-nilai, keyakinan, dan norma yang ada disetiap organisasi. Kultur organisasi dapat mendorong atau menurunkan efektifitas tergantung dari sifat nilai-nilai, keyakinan dan norma-norma yang dianut
Tingkatan Budaya Organisasi
Dalam
mempelajari budaya organisasi ada beberapa tingkatan budaya dalam sebuah
organisasi,, dari yang terlihat dalam perilaku (puncak) sampai pada yang
tersembunyi. Schein (dalam Mohyi 1996: 85) mengklasifikasikan budaya organisasi
dalam tiga kelas, antara lain :
1. Artefak
Artefak
merupakan aspek-aspek budaya yang terlihat. Artefak lisan, perilaku, dan fisik
dalam manifestasi nyata dari budaya organisasi
2. Nilai-nilai yang mendukung
Nilai adalah dasar titik berangka evaluasi yag dipergunakan anggota organisasi untuk menilai organisasi, perbuatan, situasi dan hal-hal lain yag ada dalam organisasi
3. Asumsi dasar
Adalah keyakinan yang dimiliki anggota organisasi tentang diri mereka sendiri, tentang orang lain dan hubungan mereka dengan orang lain serta hakekat organisasi mereka
Sementara Lundberg (dalam Mohyi, 1999:196)dalam studinya yang melanjutkan penelitian Schein dan menjadikan tingkatan budaya organisasi sebagai topik utama mengklasifikasikan budaya organisasi dalam empat kelas, yaitu
1) Artefak
Artefak merupakan aspek-aspek budaya yang terlihat. Artefak lisan, perilaku, dan fisik dalam manifestasi nyata dari budaya organisasi
2) Perspektif
Perspektif adalah aturan-aturan dan norma yag dapat diaplikasikan dalam konteks tertentu, misalnya untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi, cara anggota organisasi mendefinisikan situasi-siatuasi yang muncul. Biasanya anggota menyadari perspektif ini.
3) Nilai
Nilai ini lebih abstrak dibanding perspektif, walaupun sering diungkap dalam filsafat organisasi dalam menjalankan misinya
4) Asumsi
Asumsi ini seringkali tidak disadari lebih dalam dari artefak, perspektif dan nilai
Manfaat
Budaya Organisasi
Kesinambungan organisasi sangat tergantung pada budaya yang dimiliki. Susanto (1997) mengemukakan bahwa budaya perusahaan dapat dimanfaatkan sebagai daya saing andalan organisasi dalam menjawab tantangan dan perubahan. Budaya organisasi pun dapat berfungsi sebagai rantai pengikat dalam proses menyamakan persepsi atau arah pandang anggota terhadap suatu permasalahan, sehingga akan menjadi satu kekuatan dalam pencapaian tujuan organisasi.
Kesinambungan organisasi sangat tergantung pada budaya yang dimiliki. Susanto (1997) mengemukakan bahwa budaya perusahaan dapat dimanfaatkan sebagai daya saing andalan organisasi dalam menjawab tantangan dan perubahan. Budaya organisasi pun dapat berfungsi sebagai rantai pengikat dalam proses menyamakan persepsi atau arah pandang anggota terhadap suatu permasalahan, sehingga akan menjadi satu kekuatan dalam pencapaian tujuan organisasi.
Fungsi budaya pada umumnya sukar dibedakan dengan fungsi budaya kelompok atau budaya organisasi, karena budaya merupakan gejala sosial. Menurut Ndraha (1997) ada beberapa fungsi budaya, yaitu :
1.
Sebagai
identitas dan citra suatu masyarakat
2.
Sebagai
pengikat suatu masyarakat
3.
Sebagai
sumber
4.
Sebagai
kekuatan penggerak
5.
Sebagai
kemampuan untuk membentuk nilai tambah
6.
Sebagai
pola perilaku
7.
Sebagai
warisan
8.
Sebagai
pengganti formalisasi
9.
Sebagai
mekanisme adaptasi terhadap perubahan
10. Sebagai proses yang menjadikan
bangsa kongruen dengan negara sehingga terbentuk nation – state
Sedangkan
menurut Robbins (1999) fungsi budaya didalam sebuah organisasi adalah :
1.
Budaya
mempunyai suatu peran menetapkan tapal batas
2.
Budaya
berarti identitas bagi suatu anggota organisasi
3.
Budaya
mempermudah timbulnya komitmen
4.
Budaya
meningkatkan kemantapan sistem sosial
Membangun dan Membina Budaya Organisasi
Kebiasaan pada saat ini, tradisi, dan cara-cara umum untuk melaksanakan pekerjaan kebanyakan berasal dari apa yang telah dilaksanakan sebelumnya dan tingkat keberhasilan dari usaha-usaha yang telah dilakukan. Ini membawa kita kepada sumber utama dari budaya sebuah organisasi yaitu para pendirinya
Para pendiri organisasi secara tradisional mempunyai dampak yang penting dalam pembentukan budaya awal organisasi, karena para pendiri tersebut adalah orang-orang yang mempunyai ide awal, mereka juga biasanya mempunyai bias tentang bagaimana ide-ide tersebut harus dipenuhi. Menurut Robbins (1999: 296) Budaya organisasi merupakan hasil dari interaksi antara
1.
Bias dan
asumsi pendirinya
2.
Apa yang
telah dipelajari oleh para anggota pertama organisasi,
yang dipekerjakan oleh pendiri
Tahapan-tahapan
pembangunan budaya organisasi dapat diidentifikasikan sebagai berikut : (Nimran
, 2004: 137)
1.
seseorang
(biasanya pendiri) datang dengan ide atau gagasan tentang sebuah usaha baru
2.
pendiri
membawa orang-orang kunci yang merupakan para pemikir, dan menciptakan kelompok
inti yang mempunyai visi yang sama dengan pendiri
3.
kelompok
inti memulai serangkaian tindakan untuk menciptakan organisasi, mengumpulkan
dana, menentukan jenis dan tempat usaha dan lain sebagainya
4.
orang-orang
lain dibawa kedalam organisasi untuk berkarya bersama-sama dengan pendiri dan
kelompok inti, memulai sebuah sejarah bersama
Begitu
juga Nimran (2004: 138) menulis bahwa pembinaan budaya organisasi dapat dilakukan dengan serangkaian
langkah sosialisasi berikut :
1.
seleksi
pegawai yang obyektif
2.
penempatan
orang dalam pekerjaannya yang sesuai dengan kemampuan dan bidangnya (the right
man on the place)
3.
perolehan
dan peningkatan kemahiran melalui pengalaman
4.
pengukuran
prestasi dan pemberian imbalan yang sesuai
5.
penghayatan
akan nilai-nilai kerja atau lainnya yang penting
6.
cerita-cerita
dan faktor organisasi yang menumbuhkan semangat dan kebanggaan
7.
pengakuan
dan promosi bagi karyawan yang berprestasi
Menjaga
dan Mempertahankan Budaya Organisasi
Tiga
kekuatan yang memainkan peran penting dalam mempertahankan budaya :
1.Proses
seleksi
2.Tindakan
manajemen puncak
3.Metoda
sosialisasi (proses adaptasi karyawan pada budaya organisasi) :- prearrival
stage (tahap prakedatangan) : periode pembelajaran dimana prosessosialisasi
dilakukan sebelum karyawan baru bergabung dalam organisasi- encounter stage
(tahap perjumpaan) : proses sosialisasi dimana karyawan barumelihat bagaimana
budaya organsasi yang sesungguhnya, gap (kesenjangan) yangterjadi, dan
kenyataan yang ada- metamorphosis stage (tahap metamorfosis) : proses
sosialisasi dimana karyawanbaru berubah dan menyesuaikan diri dengan pekerjaan,
kelompok kerja, danorganisasi
Daftar Pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar