Selasa, 08 Mei 2012

Sumber : okezone.com

Polri: Ada 30 Kasus Over Acting Penggunaan Senpi

JAKARTA - Polri mengakui penyalahgunaan senjata api (senpi) kebanyakan dilakukan dengan cara over acting atau terlalu berlebihan sehingga membuat orang lain ketakutan. Setidaknya ada 30 kasus yang tercatat sejak 2001 hingga 2012.

Menurut Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Kombes Boy Rafli Amar tindakan berlebihan tersebut antara lain mengeluarkan senjata api di muka umum dan menimbulkan rasa tidak nyaman bagi masyarakat lain. Selain itu, 12 kasus pengancaman dengan menggunakan senpi juga terjadi. Kemudian penganiayaan ringan ada tujuh kasus, penembakan udara ada empat kasus, jaringan narkoba ada tiga kasus, dan terakhir adalah modidikasi senpi ada satu perkara. Jadi totalnya hingga 2012 ada 59 kasus.

"Mereka pada umumnya ketika diketahui menyalahgunakan senpi, langsung ditarik senpinya," ungkap Boy kepada wartawan di Gedung Humas Mabes Polri, Jakarta, Selasa (8/5/2012).

Boy menegaskan, pemberian senpi kepada warga negara sudah sesuai dengan undang-undang, dan negara telah memberikan kewenangan pada Polri. Sedangkan penggunaan sepi untuk praktek kejahatan seperti perampokan pada dasarnya menggunakan senjata yang tidak diberi izin Polri.

Dari hasil olah TKP, Boy melihat ada perbedaan proyektil dan selongsong karena diakuinya, senpi yang dikeluarkan Polri hanya kaliber 32 dan 22. Sedangkan kejahatan yang menghilangkan nyawa orang, ada senjata laras panjang dengan rata-rata kaliber 38,9 mm dan 5,56 mm.

"Artinya senjata non-perosedur kepolisian, karena tidak diberikan kepada masyarakat. Dari hasil penanganan perkara kasus senpi, itu diperoleh dari perdagangan gelap. Kedua, senjata rakitan," terangnya.

Ditegaskannya, perdagangan gelap bisa bermacam-macam, bisa memperoleh senjata dari daerah bekas konflik, yang ada di dalam negeri, kemudian diperjualbelikan kepada mereka yang membutuhkan. Sementara itu, penyelundupan juga kerap terjadi dan merek memperolehnya dari negara tetangga, seperti Filipina yang masuk ke Indonesia melalui Nunukan.

"Itulah jaringan yang pernah kita ungkap selama ini," tandasnya.

Review :
Sebenarnya orang yang memliki senjata api harus mempunya surat izin, polisi harus secepatnya menangkap para pedagang gelap senjata api, karena sebenarnya senjata api itu bukan untuk di perjual belikan secara bebas tetapi harus mendapatkan izin terlebih dahulu.


Sumber : okezone.com

Gajah Ngamuk, 2 Orang Luka & Belasan Rumah Ambruk
PADANGLAWAS - Belasan rumah dan puluhan hektare ladang milik warga di Tor Simaninggir, Desa Sihoda-Hoda, Kecamatan Huristak, Kabupaten Padanglawas, Sumatera Utara, hancur akibat amukan kawanan gajah liar.

Perabot di dalam rumah tak luput diobrak-abrik oleh kawanan gajah. Tanaman yang dirusak di antaranya sawit dan hasil kebun lainnya. Amukan gajah juga membuat dua warga Sihoda-Hoda menderita luka.

Abdul Karim Siregar, warga Sihoda-hoda, Selasa (8/5/2012), mengungkapkan sekelompok gajah itu sebenarnya sedang berkelahi sesama mereka. Masing-masing kelompok mengejar gerombolan lainnya hingga mereka masuk ke permukiman warga.

“Gajah merobohkan belasan rumah penduduk, merusak kebun warga. Selanjutnya, dua warga juga cidera akibat peristiwa itu,” tutur Abdul Karim.

Untuk mengantisipasi kejadian yang sama, warga terus melakukan pengusiran dengan cara meletuskan meriam bambu. Cara tersebut diyakini dapat mengusir para gajah yang sedang mengamuk.

Review :
Saya rasa karena habitat gajah-gajah tersebut sudah smakin berkurang akibat banyaknya tangan-tangan serakah umat manusia yang tidak bertanggung jawab maka gajah tersebut masuk ke dalam wilayah desa terdekat untuk mencari makanan atau yang lainnya.

Senin, 07 Mei 2012




Sumber : VIVAnews.com
Bank Danamon Dibobol Maling, Rp167 Juta Raib

Aksi perampokan dengan cara membobol Bank kembali lagi terjadi, kali ini menimpa Bank Danamon dikawasan pasar Pal Sigunung, Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu dini hari 14 Januari 2012. Pelaku berhasil mengambil uang ratusan juta rupiah dari brangkas.

Kapolsek Metro Cimanggis, Ajun Komisaris Firman Andreanto mengatakan peristiwa pembobolan bank tersebut terjadi  sekitar pukul 03.00 WIB. Kantor Bank Danamon itu, kata Firman tidak dijaga oleh petugas keamanan internal.

"Tidak ada security yang menjaga, diperkirakan pelaku di dalam Bank itu sudah berjam-jam. Sebelum melakukan aksinya, pelaku sudah memutus CCTV sehingga kami tidak bisa melihat berapa jumlah pelaku," kata Firman saat dihubungi VIVAnews.com, Sabtu 14 Januari 2012.

Dikatakan Firman, jumlah uang yang berhasil diambil oleh pelaku di dalam brangkas sebesar Rp167 juta. Barang-barang elektronik seperti komputer dan beberapa dokumen penting juga ikut diambil oleh pelaku.

Atas kejadian tersebut, pihak Bank langsung melaporkan ke Polsek Cimanggis, saat ini sudah beberapa orang yang diperiksa sebagai saksi, "Dari pimpinan bank, dan pegawai yang baru diperiksa. Langkah polisi saat ini masih mengindetifikasi pelaku," kata Firman.

Review :
Polisi harus cepat menyelidiki dan mencari para pelaku perampokan ini, supaya uang nasabah bank tersebut bisa di kembalikan.


Sumber : detic.com
Kemlu Berencana Evakuasi WNI yang Terancam dari Suriah

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) berencana mengevakuasi WNI di Suriah, yang sudah merasa terancam keamanannya. Untuk evakuasi WNI, Kemlu juga meminta Presiden Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Suriah, Evi Fauzi Abdurrazaq, untuk ikut membantu mendata WNI yang merasa sudah tidak aman tersebut.

“Kami akan mendata WNI yang merasa terancam, dan kami akan merapatkannya di Jakarta, insya Allah dalam beberapa hari kami akan dapat mengevakuasinya,” ujar Direktur Perlindungan WNI Kemlu, Tatang Razak, ketika bertatap muka dengan WNI di aula kedutaan Besar RI, di Damaskus, Sabtu (14/1), sebagaimana dilaporkan pelajar Indonesia di Damaskus, Najih Ramadhan, yang menghadiri pertemuan itu, Minggu (15/1/2012).

Kepada detikcom, Najih menuturkan, Tatang mengatakan bahwa ada WNI di beberapa kawasan yang sudah harus dievakuasi, dan sebagian lain masih dalam kategori lumayan aman, hingga belum perlu dievakuasi. Cara evakuasi bertahap ini dilakukan untuk menghindari kasus kepanikan seperti yang terjadi di Mesir beberapa bulan yang lalu, dan bukan karena meremehkan situasi.

Tatang yang datang bersama tim ke Damaskus, Suriah sejak Jumat (13/1) pagi melalui jalur darat yakni dari Yordania. Tatang juga meninjau beberapa kota di Suriah, serta bertemu dengan tokoh-tokoh penting, dan pejabat-pejabat negara terkait. Mereka juga melakukan inspeksi ke beberapa lokasi seperti pasar tradisional guna mensurvei harga makanan pokok, kawasan ramai kota, serta beberapa tempat-tempat strategis di ibu kota Damaskus.

Selain itu, rombongan juga telah mengecek tenda-tenda pengungsian yang rencananya akan digunakan untuk mengungsikan WNI, jika situasi semakin memburuk. Tenda-tenda tersebut berlokasi di pelataran KBRI-Damaskus dan Wisma Duta-Ya’four. Tenda-tenda tersebut, menurutnya sudah bisa untuk menampung sekitar 700 WNI yang membutuhkan.

Mereka juga mengecek persediaan bahan makanan pokok seperti beras, mie instant, minyak sayur, serta lainnya, yang telah disimpan di gudang Wisma Duta. Rencananya hari ini, Tatang dan tim nya akan bertemu dengan pejabat Kemenlu dan Departemen Imigrasi Suriah.

“Ini kami sedang maraton, besok (hari Minggu 15/1) rencananya kami akan bertemu dengan Kemenlu dan Imigrasi,” terang Tata.

Dalam pertemuan yang dihadiri oleh sekitar 300 WNI itu, Tatang mengimbau agar mereka bisa saling bertukar informasi, dan selalu berkoordinasi dengan Satgas Evakuasi yang dikoordinatori Iskandar Suksmadi. Namun kemungkinan nantinya, tidak semua WNI di Suriah dapat dievakuasi, karena banyak dari mereka terutama Tenaga Kerja Indonesia Pekerja Laksana Rumah Tangga (TKI PLRT) yang belum terdata.

Data dari Kantor Imigrasi Suriah mengatakan terdapat sekitar 80 ribu WNI di negaranya. Namun KBRI hanya mempunyai data 12 ribu di antaranya. 12 ribu itu terdiri dari beberapa diplomat, satu ekspatriat, 200 mahasiswa, dan selebihnya adalah TKI informal.

Keamanan WNI di Suriah kini menjadi perhatian Kemlu. Hal ini menyusul situasi dan keamanan yang semakin tidak menentu pasca konflik internal di negara tersebut. Selain Suriah, Nigeria juga mengalami nasib yang sama.

Review :
Pemerintah memang harus bertindak dalam hal ini supaya tidak aka nada lagi korban kekerasan kepada TKI yang sedang berada di sana.