Sabtu, 30 November 2013

Makalah Politik (Pemilu)



BAB I
PENDAHULUAN

1.1.          Latar Belakang Masalah
Secara etimologis, politik berasal dari kata Yunani polis yang berarti kota atau negara kota. Kemudian arti itu berkembang menjadi polites yang berarti warganegara, politeia yang berarti semua yang berhubungan dengan negara, politika yang berarti pemerintahan  negara dan politikos yang berarti kewarganegaraan.

Aristoteles (384-322 SM) dapat dianggap sebagai orang pertama yang memperkenalkan kata politik melalui pengamatannya tentang manusia yang ia sebut zoon politikon. Dengan istilah itu ia ingin menjelaskan bahwa hakikat kehidupan sosial adalah politik dan interaksi antara dua orang atau lebih sudah pasti akan melibatkan hubungan politik. Aristoteles melihat politik sebagai kecenderungan alami dan tidak dapat dihindari manusia, misalnya ketika ia mencoba untuk menentukan posisinya dalam masyarakat, ketika ia berusaha meraih kesejahteraan pribadi, dan ketika ia berupaya memengaruhi orang lain agar menerima pandangannya.

Aristoteles berkesimpulan bahwa usaha memaksimalkan kemampuan individu dan mencapai bentuk kehidupan sosial yang tinggi adalah melalui interaksi politik dengan orang lain. Interaksi itu terjadi di dalam suatu kelembagaan yang dirancang untuk memecahkan konflik sosial dan membentuk tujuan negara. Dengan demikian kata politik menunjukkan suatu aspek kehidupan, yaitu kehidupan politik yang lazim dimaknai sebagai kehidupan yang menyangkut segi-segi kekuasaan dengan unsur-unsur: negara, kekuasaan , pengambilan keputusan , kebijakan , dan pembagian  atau alokasi.

1.2.         Rumusan Masalah
1.      Apakah itu Pemilu?
2.      Bagaimanakah Pelaksanaan Pemilu itu?
3.      Apakah peran media pada pemilu sudah digunakan?

1.3.         Tujuan Penulisan
1.      Menjelaskan apa itu Pemilu.
2.      Menjelaskan bagaimana pelaksanaan Pemilu.
3.      Menjelaskan peran media pada Pemilu.

BAB II
PEMBAHASAN
Pemilihan Umum (Pemilu) adalah proses pemilihan orang(-orang) untuk mengisi jabatan-jabatan politik tertentu. Jabatan-jabatan tersebut beraneka-ragam, mulai dari Presiden, wakil rakyat di berbagai tingkat pemerintahan, sampai kepala desa. Pada konteks yang lebih luas, Pemilu dapat juga berarti proses mengisi jabatan-jabatan seperti ketua OSIS atau ketua kelas, walaupun untuk ini kata 'pemilihan' lebih sering digunakan.
Pemilu merupakan salah satu usaha untuk mempengaruhi rakyat secara persuasif (tidak memaksa) dengan melakukan kegiatan retorika, public relations, komunikasi massa, lobby dan lain-lain kegiatan.Meskipun agitasi dan propaganda di Negara demokrasi sangat dikecam, namun dalam kampanye pemilihan umum, teknik agitasi dan teknik propaganda banyak juga dipakaioleh para kandidat atau politikus selalu komunikator politik.
Dalam Pemilu, para pemilih dalam Pemilu juga disebut konstituen, dan kepada merekalah para peserta Pemilu menawarkan janji-janji dan program-programnya pada masa kampanye.Kampanye dilakukan selama waktu yang telah ditentukan, menjelang hari pemungutan suara.
Setelah pemungutan suara dilakukan, proses penghitungan dimulai. Pemenang Pemilu ditentukan oleh aturan main atau sistem penentuan pemenang yang sebelumnya telah ditetapkan dan disetujui oleh para peserta, dan disosialisasikan ke para pemilih.
Pelaksanaan (pemilu) di Indonesia pada awalnya ditujukan untuk memilih anggota lembaga perwakilan, yaitu DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Setelah amandemen keempat UUD 1945 pada 2002, pemilihan presiden dan wakil presiden (pilpres), yang semula dilakukan oleh MPR, disepakati untuk dilakukan langsung oleh rakyat sehingga pilpres pun dimasukkan ke dalam rezim pemilu. Pilpres sebagai bagian dari pemilu diadakan pertama kali pada Pemilu 2004. Pada 2007, berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007, pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah (pilkada) juga dimasukkan sebagai bagian dari rezim pemilu. Di tengah masyarakat, istilah "pemilu" lebih sering merujuk kepada pemilu legislatif dan pemilu presiden dan wakil presiden yang diadakan setiap 5 tahun sekali.
Pemilihan umum di Indonesia menganut asas "Luber" yang merupakan singkatan dari "Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia". Asal "Luber" sudah ada sejak zaman Orde Baru. Langsung berarti pemilih diharuskan memberikan suaranya secara langsung dan tidak boleh diwakilkan. Umum berarti pemilihan umum dapat diikuti seluruh warga negara yang sudah memiliki hak menggunakan suara. Bebas berarti pemilih diharuskan memberikan suaranya tanpa ada paksaan dari pihak manapun, kemudian Rahasia berarti suara yang diberikan oleh pemilih bersifat rahasia hanya diketahui oleh si pemilih itu sendiri.
Kemudian di era reformasi berkembang pula asas "Jurdil" yang merupakan singkatan dari "Jujur dan Adil". Asas jujur mengandung arti bahwa pemilihan umum harus dilaksanakan sesuai dengan aturan untuk memastikan bahwa setiap warga negara yang memiliki hak dapat memilih sesuai dengan kehendaknya dan setiap suara pemilih memiliki nilai yang sama untuk menentukan wakil rakyat yang akan terpilih. Asas adil adalah perlakuan yang sama terhadap peserta pemilu dan pemilih, tanpa ada pengistimewaan ataupun diskriminasi terhadap peserta atau pemilih tertentu. Asas jujur dan adil mengikat tidak hanya kepada pemilih ataupun peserta pemilu, tetapi juga penyelenggara pemilu.
Peran media begitu besar untuk meningkatkan partisipasi pemilih dalam memberikan hak politiknya dalam Pemilu. Proses demokrasi di Indonesia akan semakin baik dan bermutu dengan adanya peran media. Dalam menegakkan demokrasi yang lebih etis media massa dapat berperan melalui aneka berita, ulasan, opini, talkshow, dialog, polemik, dan iklan mengenai pemilu yang jujur, adil dan demokratis, sehingga Pemilu menghasilkan pemimpin yang visioner, berkualitas, berintegritas, dan cinta kepada rakyat.
Adapun yang terjadi pada pemilihan Kepala Daerah di Riau, Pelaksanaannya cenderung “Primitif” karena tidak ada satupun  televisi yang menyiarkan perkembangan perhitungan suara secara bertahap karena memang tidak ada data dari lembaga yang melakukan perhitungan. Seluruh calon mengklaim pihaknya menang, tidak ada data yang dapat di pegang sebagai pembanding yang dapat diyakini dengan pendekatan ilmiah.

BAB III
PENUTUP

3.1.   Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan
Dalam Pelaksanaan Pemilu haruslah diseimbangkan dengan perkembangan zaman agar mendapatkan hasil yang sesuai dengan keinginan rakyat.

Saran
Kita harus menyertakan peran Media dalam pelaksanaan suatu Pemilu karena Media massa berfungsi sebagai alat kontrol sosial politik yang dapat memberikan berbagai informasi mengenai penyimpangan sosial itu sendiri dan diharapkan juga dapat mendidik masyarakat agar lebih memahami ilmu politik praktis dan perkembangan situasi politik nasional yang sebenarnya agar tidak terjebak dalam keadaan yang kembali kezaman batu atau “Primitif”


Daftar Pustaka


Sabtu, 23 November 2013

Resensi Artikel



PEMILU YANG KEMBALI “PRIMITIF”


Judul Artikel               : Pemilu Yang Kembali “Primitif”

Penulis                        : Tribun Pekanbaru / Theo Rizky

Penerbit                      : Kompas

Terbit                           : 7 September 2013

Tema                           : Politik

No Halaman                : Halaman 23






Contoh Resensi Artikel ini adalah sebagai berikut :

Pemilihan umum kepala daerah provinsi Riau 2013 kali ini cenderung primitif.
Di era modern dengan perkenmbangan teknologi komunikasi begitu pesat, komisi pemilihan umum Riau justru memilih kembali ke zaman baheula.

Masyarakat Riau di buat heran dengan perasaan kehilangan rasa ingin tahu yang menyakitkan. Bayangkan dimana-mana bahkan di pelosok tanah air ini saat PILKADA pasti ada yang namanya perhitungan cepat.

Sejumlah lembaga survei akan melakukan perhitungan berdasarkan metode pengambilan sampel untuk menentukan pasangan calon mana yang di prediksi menjadi juara. Stasiun televisi juga berlomba-lomba menyiarkan perkembangan detik-perdetik kemajuan perolehan suara.

Akan tetapi pada saat pencoblosan tanggal 4 september tidak ada satupun  televisi yang menyiarkan perkembangan perhitungan suara secara bertahap karena memang tidak ada data dari lembaga yang melakukan perhitungan. Seluruh calon mengklaim pihaknya menang, tidak ada data yang dapat di pegang sebagai pembanding yang dapat diyakini dengan pendekatan ilmiah.

Ini adalah “Pemilu terburuk yang pernah di laksanakan di Riau, Primitif”

Keunggulannya artikel ini adalah dalam artikel ini penulis membahas tentang tidak digunakannya teknologi komunikasi yang ada pada era modern sepereti sekarang ini.

Kelemahannya artikel ini adalah dalam artikel ini sang penulis tidak menceritakan siapa kandidat yang berhasil mendapatkan suara terbanyak.

Pendapat akhir seharusnya di dalam proses pemilihan umum, perkembangan teknologi komunikasi harus digunakan agar masyarakat dapat mengetahui perkembangan dari hasil pemilihan tersebut.


Saran di zaman yang modern ini kita harus bisa mengikuti perkembangan dan kemajuan teknologi yang ada.



Senin, 08 Juli 2013

Budaya Organisasi






BUDAYA ORGANISASI

Pengertian Budaya Organisasi

Manusia adalah makhluk yang berbudaya, setiap aktifitasnya mencerminkan sistem kebudayaan yang berintegrasi dengan dirinya, baik cara berpikir, memandang sebuah permasalahan. Pengambilan keputusan dan lain sebagainya.

Budaya Organisasi Menurut Para Ahli

Kata budaya (Culture) sebagai suatu konsep berakar dari kajian atau disiplin ilmu Antropologi ; yang oleh Killman . et. Al (dalam Nimran, 2004) diartikan sebagai Falsafah, ideologi, nila-nilai, anggapan, keyakinan, harapan, sikap dan norma yang dimiliki bersama dan mengikat suatu masyarakat.


Kini konsep tersebut telah pula mendapat tempat dalam perkembangan ilmu perilaku organisasi, dan menjadi bahasan yang penting dalam literatur ilmiah dikedua bidang itu dengan memakai istilah budaya organisasi


Menurut Robbins  (1999) semua organsasi mempuyai budaya yang tidak tertulis yang mendefinisikan standar-standar perilaku yang dapat diterima dengan baik maupun tidak untuk para karyawan. Dan proses akan berjalan beberapa bulan, kemudian setelah itu kebanyakan karyawan akan memahami budaya organiasi mereka seperti, bagaimana berpakaian untuk kerja dan lain sebagainya

Gibson (1997) mendefinisikan budaya organisasi sebagai sistem yang menembus nilai-nilai, keyakinan, dan norma yang ada disetiap organisasi. Kultur organisasi dapat mendorong atau menurunkan efektifitas tergantung dari sifat nilai-nilai, keyakinan dan norma-norma yang dianut




Tingkatan Budaya Organisasi
Dalam mempelajari budaya organisasi ada beberapa tingkatan budaya dalam sebuah organisasi,, dari yang terlihat dalam perilaku (puncak) sampai pada yang tersembunyi. Schein (dalam Mohyi 1996: 85) mengklasifikasikan budaya organisasi dalam tiga kelas, antara lain :

1.    Artefak 
Artefak merupakan aspek-aspek budaya yang terlihat. Artefak lisan, perilaku, dan fisik dalam manifestasi nyata dari budaya organisasi

2.   Nilai-nilai  yang    mendukung
Nilai adalah dasar titik berangka evaluasi yag dipergunakan anggota organisasi untuk menilai organisasi, perbuatan, situasi dan hal-hal lain yag ada dalam organisasi

3.   Asumsi      dasar
Adalah keyakinan yang dimiliki anggota organisasi tentang diri mereka sendiri, tentang orang lain dan hubungan mereka dengan orang lain serta hakekat organisasi mereka

Sementara Lundberg (dalam Mohyi, 1999:196)dalam studinya yang melanjutkan penelitian Schein dan menjadikan tingkatan budaya organisasi sebagai topik utama mengklasifikasikan budaya organisasi dalam empat kelas, yaitu

1)   Artefak
Artefak merupakan aspek-aspek budaya yang terlihat. Artefak lisan, perilaku, dan fisik dalam manifestasi nyata dari budaya organisasi

2)   Perspektif
Perspektif adalah aturan-aturan dan norma yag dapat diaplikasikan dalam konteks tertentu, misalnya untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi, cara anggota organisasi mendefinisikan situasi-siatuasi yang muncul. Biasanya anggota menyadari perspektif ini.

3)   Nilai
Nilai ini lebih abstrak dibanding perspektif, walaupun sering diungkap dalam filsafat organisasi dalam menjalankan misinya

4)   Asumsi
Asumsi ini seringkali tidak disadari lebih dalam dari artefak, perspektif dan nilai 



Manfaat Budaya Organisasi

Kesinambungan organisasi sangat tergantung pada budaya yang dimiliki. Susanto (1997) mengemukakan bahwa budaya perusahaan dapat dimanfaatkan sebagai daya saing andalan organisasi dalam menjawab tantangan dan perubahan. Budaya organisasi pun dapat berfungsi sebagai rantai pengikat dalam proses menyamakan persepsi atau arah pandang anggota terhadap suatu permasalahan, sehingga akan menjadi satu kekuatan dalam pencapaian tujuan organisasi. 




Fungsi Budaya Organisasi

Fungsi budaya pada umumnya sukar dibedakan dengan fungsi budaya kelompok atau budaya organisasi, karena budaya merupakan gejala sosial. Menurut Ndraha (1997) ada beberapa fungsi budaya, yaitu :
1.      Sebagai identitas dan citra suatu masyarakat
2.      Sebagai pengikat suatu masyarakat
3.      Sebagai sumber
4.      Sebagai kekuatan penggerak
5.      Sebagai kemampuan untuk membentuk nilai tambah
6.      Sebagai pola perilaku
7.      Sebagai warisan
8.      Sebagai pengganti formalisasi
9.      Sebagai mekanisme adaptasi terhadap perubahan
10.  Sebagai proses yang menjadikan bangsa kongruen dengan negara sehingga terbentuk nation – state

Sedangkan menurut Robbins (1999) fungsi budaya didalam sebuah organisasi adalah :
1.      Budaya mempunyai suatu peran menetapkan tapal batas
2.      Budaya berarti identitas bagi suatu anggota organisasi
3.      Budaya mempermudah timbulnya komitmen
4.      Budaya meningkatkan kemantapan sistem sosial

Membangun dan Membina Budaya Organisasi

Kebiasaan pada saat ini, tradisi, dan cara-cara umum untuk melaksanakan pekerjaan kebanyakan berasal dari apa yang telah dilaksanakan sebelumnya dan tingkat keberhasilan dari usaha-usaha yang telah dilakukan. Ini membawa kita kepada sumber utama dari budaya sebuah organisasi yaitu para pendirinya

Para pendiri organisasi secara tradisional mempunyai dampak yang penting dalam pembentukan budaya awal organisasi, karena para pendiri tersebut adalah orang-orang yang mempunyai ide awal, mereka juga biasanya mempunyai bias tentang bagaimana ide-ide tersebut harus dipenuhi. Menurut Robbins (1999: 296) Budaya organisasi merupakan hasil dari interaksi antara 
1.      Bias dan asumsi pendirinya
2.      Apa yang telah dipelajari oleh para anggota pertama     organisasi, yang dipekerjakan oleh pendiri

Tahapan-tahapan pembangunan budaya organisasi dapat diidentifikasikan sebagai berikut : (Nimran ,  2004: 137)
1.      seseorang (biasanya pendiri) datang dengan ide atau gagasan tentang sebuah usaha baru
2.      pendiri membawa orang-orang kunci yang merupakan para pemikir, dan menciptakan kelompok inti yang mempunyai visi yang sama dengan pendiri
3.      kelompok inti memulai serangkaian tindakan untuk menciptakan organisasi, mengumpulkan dana, menentukan jenis dan tempat usaha dan lain sebagainya
4.      orang-orang lain dibawa kedalam organisasi untuk berkarya bersama-sama dengan pendiri dan kelompok inti, memulai sebuah sejarah bersama

Begitu juga Nimran (2004: 138) menulis bahwa pembinaan budaya organisasi dapat dilakukan dengan serangkaian langkah sosialisasi berikut :
1.      seleksi pegawai yang obyektif
2.      penempatan orang dalam pekerjaannya yang sesuai dengan kemampuan dan bidangnya (the right man on the place)
3.      perolehan dan peningkatan kemahiran melalui pengalaman
4.      pengukuran prestasi dan pemberian imbalan yang sesuai
5.      penghayatan akan nilai-nilai kerja atau lainnya yang penting
6.      cerita-cerita dan faktor organisasi yang menumbuhkan semangat dan kebanggaan
7.      pengakuan dan promosi bagi karyawan yang berprestasi

Menjaga dan Mempertahankan Budaya Organisasi

Tiga kekuatan yang memainkan peran penting dalam mempertahankan budaya :
1.Proses seleksi
2.Tindakan manajemen puncak
3.Metoda sosialisasi (proses adaptasi karyawan pada budaya organisasi) :- prearrival stage (tahap prakedatangan) : periode pembelajaran dimana prosessosialisasi dilakukan sebelum karyawan baru bergabung dalam organisasi- encounter stage (tahap perjumpaan) : proses sosialisasi dimana karyawan barumelihat bagaimana budaya organsasi yang sesungguhnya, gap (kesenjangan) yangterjadi, dan kenyataan yang ada- metamorphosis stage (tahap metamorfosis) : proses sosialisasi dimana karyawanbaru berubah dan menyesuaikan diri dengan pekerjaan, kelompok kerja, danorganisasi


Daftar Pustaka