Kejujuran itu Kesalahan
Ya.. Kurang lebih
seperti itulah kondisi dan realita yang terjadi saat ini. Ketika kita melakukan
perbuatan yang baik, selalu saja ada penentang perbuatan kita, entah yang
terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi. Sebaliknya, ketika kita
melakukan yang jelas-jelas salah, malah banyak yang mendukung dan banyak pula
yang ikut-ikutan.
Contoh gamblangnya
seperti mencontek saat ujian. Mencontek dipandang sebagai hal yang buruk. Namun
tetap saja menjadi hal yang sering dilakukan oleh banyak orang. Jika
kondisi seperti ini dibiarkan terus-menerus maka akan berakibat fatal.
Akan tumbuh generasi-generasi muda yang bermental pengecut.
Peradaban masyarakat
seharusnya sesuai dengan nilai-nilai dan hukum positif yang berlaku di suatu
daerah. Namun lagi-lagi kini mental pengecut sudah melanda masyarakat pada
umumnya. Akhirnya nilai-nilai positif itu hanya dianggap sebuah angin lalu yang
tiada meninggalkan bekas.
Sebuah ongkos mahal
untuk mempertahankan kejujuran. Hal ini dialami oleh Ibu Siami. Ia di caci ,
dimaki, bahkan diusir akibat melaporkan guru SDN Gadel 2 yang memaksa anaknya
untuk memberikan contekan kepada teman-temannya saat ujian nasional. Ibu siami
dituduh mencemarkan nama baik kampung dan sekolah.
Dari kejadian tersebut
dapat diambil kesimpulan bahwa saat ini kejujuran menjadi sebuah momok dan
perilaku yang menakutkan di tengah masyarakat. Pasalnya kejujuran yang
merupakan sebuah kebaikan malah disalahkan. Padahal kejujuran itu sendiri
merupakan sebuah perilaku yang tidak menyalahi nilai-nilai positif di tengah
masyarakat.
Itulah sebuah potret
bangsa yang terjadi saat ini. Siswa di didik sebagai calon koruptor. Dikatakan
demikian karena pada dasarnya mencontek itu sama saja dengan bakal korupsi.
Meskipun terlihat sepele namun hal tersebut memang benar-benar terjadi.
Nilai-nilai positif sudah tidak dijunjung lagi. Padahal seharusnya nilai-nilai
positif itu ditanamkan pada anak-anak calon penerus bangsa sejak dini.
Saat ini mencontek
bisa dibilang korupsi kecil untuk sekelas seorang anak kecil. Suatu saat nanti
ketika cara pandang seperti ini tidak dihilangkan, bisa jadi korupsi uang
Negara menjadi hal yang dipandang kecil juga oleh orang sekelas pejabat Negara.
Krisis pemimpin di Indonesia saat ini sejalan dengan Krisis kejujuran. Ketika
kejujuran tidak ditegakkan, maka generasi yang tumbuh di masa yang akan datang
nanti adalah sebuah generasi yang bermental koruptor.
Untuk mengatasi
masalah kejujuran seperti itu harus dimulai sejak anak masih usia dini. Yaitu
dengan menanamkan nilai-nilai positif kepada seorang anak. Karena masa tersebut
adalah masa belajar dan masa pertumbuhan baik dari segi berpikir maupun
bertindak. Pemerintah benar-benar harus memperhatikan masalah kejujuran juga.
Selama ini yang terasa di tengah masyarakat bahwa pendidikan hanya difokuskan
pada masalah kurikulum, tanpa memperhatikan aspek-aspek pembinaan terhadap anak
didik. Hal tersebut terbukti dapat dilihat diberbagai sekolah negeri yang
menitik beratkan masalah prestasi siswa dibandingkan masalah pembentukan
kepribadian. Harus ada sebuah mekanisme untuk melakukan pembinaan dan strategi
khusus untuk menyisipkan nilai-nilai positif kepada peserta didik terutama yang
masih ada dalam tataran TK, SD dan SMP. Karena disitulah masa-masa pembentukan
budaya dan sikap untuk peserta didik yang sederajat dengan tingkat pendidikan
tersebut.
review:
pentingnya
kejujuran dalam diri seseorang. tetapi terkadang kita juga kesulitan untuk berbuat jujur.
Padahal jika kita semua bisa bersikap
jujur, kehidupan akan berjalan aman dan tentram. Sebenarnya kejujuran itu harus diajarkan
sejak dini. Dan dimulai dari keluarga sendiri. Sebagai orangtua wajib
untuk mencontohkan baik dan buruknya dari setiap perbuatan. Karena jika
itu tidak di terapkan maka untuk kehidupan di masa depan akan buruk.
Contohnya saja masalah di atas. Melaporkan seorang guru yang memberikan
contekan kepada muridnya itu adalah BENAR. Tetapi mengapa tanggapan
dari sebagian masyarakat malah mencibir orangtua murid tersebut.
Tidakkah mereka berfikir akan kerugian dari trindakan yang mereka dukung
itu. Mungkin para anak-anak
akan mengalami sukses bisa lulus ujian sekarang, tetapi apakah nantinya
akan menguntukan calon penerus bangsa tersebut ? tentu saja
tidak, malah itu semua akan mengundang mereka menjadi seorang yang malas dan ketergantungan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar