BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Debus merupakan kesenian bela diri dari Banten yang
mempertunjukan kemampuan manusia yang luar biasa. Misalnya kebal senjata tajam,
kebal air keras dan lain- lain.
Kesenian ini berawal pada abad ke-16, pada
masa pemerintahan Sultan Maulana Hasanuddin (1532-1570). Pada zaman Sultan
Ageng Tirtayasa (1651—1692). Debus menjadi sebuah alat untuk memompa semangat
juang rakyat banten melawan penjajah Belanda pada masa itu. Kesenian Debus saat
ini merupakan kombinasi antara seni tari dan suara.
BAB II
PEMBAHASAN
2. Sejarah
Debus lebih dikenal sebagai kesenian asli masyarakat Banten,
yang mungkin berkembang sejak abad ke-18. Menurut sebagian banyak sumber
sejarah, kesenian debus Banten bermula pada abad 16 masa pemerintahan Sultan
Maulana Hasanuddin (1532-1570). Debus mulai dikenal pada masyarakat Banten
sebagai salah satu cara penyebaran agama Islam. Namun ada juga yang menyebutkan
Debus berasal dari daerah Timur Tengah bernama Al-Madad yang diperkenalkan ke
daerah Banten ini sebagai salah satu cara penyebaran Islam pada waktu itu. Yang
lainnya menyebutkan bahwa debus berasal dari tarekat Rifa’iyah Nuruddin
al-Raniri yang masuk ke Banten oleh para pengawal Cut Nyak Dien (1848—1908).
Kesenian Debus yang sering
dipertontonkan di antaranya:
- Menusuk perut dengan tombak atau senjata tajam lainnya tanpa terluka.
- Mengiris bagian anggota tubuh dengan pisau atau golok.
- Memakan api.
- Menusukkan jarum kawat ke lidah, kulit pipi atau anggota tubuh lainnya hingga tebus tanpa mengeluarkan darah.
- Menyiram tubuh dengan air keras hingga pakaian yang dikenakan hancur lumat namun kulit tetap utuh.
- Menggoreng telur di atas kepala.
- Membakar tubuh dengan api.
- Menaiki atau menduduki susunan golok tajam.
- Bergulingan di atas serpihan kaca atau beling.
Debus dalam Bahasa
Arab berarti tongkat besi dengan ujung runcing berhulu bundar. Bagi
sebagian masyarakat awam kesenian Debus memang terbilang sangat ekstrim. Pada
masa sekarang Debus sebagai seni beladiri yang banyak dipertontonkan untuk
acara kebudayaan ataupun upacara adat.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dengan ini kita sebagai generasi penerus harus menjaga
kesenian asli dari Negara ini agar budaya tersebut tidak hilang ataupun di
ambil oleh Negara lain supaya anak cucu kita dapat melihat kesenian tradisional
tersebut.
BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Debus
Tidak ada komentar:
Posting Komentar